How To Measure Brand Marketing
Apakah kamu selalu merasa ragu untuk berinvestasi pada pemasaran brand karena hasilnya terkesan sulit diukur? Kamu sama sekali tidak sendirian dalam hal ini. Kabar baiknya adalah kita bisa menyingkirkan keraguan tersebut dan mulai menggunakan pendekatan yang sepenuhnya berbasis data.
BRANDCAMPAIGN
























12 Cara Mengukur Kesuksesan Brand Marketing Campaign
Masih ragu menginvestasikan budget untuk brand campaign karena merasa hasilnya susah diukur Wajar. Brand campaign memang bukan aktivitas marketing yang hasilnya selalu bisa langsung terlihat dalam bentuk clicks, conversions, atau ROAS. Masalahnya, banyak marketer baru mulai melihat metrics ketika campaign sudah berjalan, bahkan setelah campaign selesai. Terlambat.
Kalau ingin tahu apakah sebuah brand campaign benar-benar bekerja, kita perlu mulai mengukurnya sebelum campaign dimulai, selama campaign berjalan, setelah campaign selesai, dan ketika campaign sudah dihentikan. Berikut 12 steps yang bisa digunakan untuk mengukurnya.
BEFORE CAMPAIGN
STEP 1 WRITE DOWN THE BASELINE FIRST
Sebelum campaign dimulai, kita harus tahu dulu kondisi brand saat ini. Jangan baru sibuk mencatat metrics ketika campaign sudah berjalan. Kita butuh data pembanding untuk mengetahui apakah ada perubahan setelah campaign. Idealnya, siapkan baseline sekitar 2 sampai 3 bulan sebelum brand campaign berjalan.
Beberapa metrics yang bisa dipantau antara lain:
• Brand Search Volume
• Branded Search Share
• Organic Share
• Direct Traffic
• Paid Conversion Rate
• Blended CAC
Intinya sederhana: Kalau tidak tahu titik awalnya, kita tidak akan tahu seberapa besar perubahan yang terjadi. Brand campaign bukan aktivitas yang mudah diukur secara langsung. Karena itu, perbandingan before and after menjadi sangat penting.
STEP 2 DECIDE WHAT COUNTS AS SUCCESS
Jangan menentukan goals setelah campaign selesai. Kalau baru melihat angka setelah campaign berakhir, angka mana pun yang naik bisa dengan mudah diklaim sebagai keberhasilan campaign. Finance tentu akan punya pendapat lain.
Tentukan dari awal seperti apa indikator campaign yang dianggap berhasil. Saat memilih metrics, tanyakan dua hal: Apakah campaign ini mampu menggerakkan top funnel metrics? Dan yang lebih penting: Apakah perubahan tersebut nantinya bisa mendatangkan new customers?
Brand membutuhkan waktu untuk berubah menjadi revenue. Karena itu, kita perlu menentukan early signals yang menunjukkan bahwa campaign sedang bekerja, bahkan sebelum dampaknya terlihat di revenue.
STEP 3 ADD AN ONBOARDING QUESTION: “HOW DID YOU HEAR ABOUT US?”
Kadang cara paling sederhana untuk mengetahui efektivitas brand campaign adalah dengan bertanya langsung kepada customer. Tambahkan pertanyaan “How did you hear about us?” ketika proses signup atau setelah customer melakukan first purchase.
Kenapa ini penting? Karena teknologi attribution punya keterbatasan. Ad pixels secanggih apa pun tidak selalu bisa mengetahui bahwa seseorang datang karena melihat TV commercial, billboard, sponsorship, atau bahkan mendapatkan rekomendasi dari temannya. Tapi customer bisa menjawabnya.
Satu hal yang perlu diperhatikan: jangan selalu menempatkan jawaban dengan urutan yang sama. Orang cenderung memilih pilihan paling atas hanya karena ingin cepat selesai. Karena itu, ubah urutan pilihan jawaban dan lihat bagaimana trennya berubah dari waktu ke waktu.
DURING CAMPAIGN
STEP 4 TRACK BRAND SEARCH VOLUME AND SHARE AGAINST COMPETITORS
Ketika orang mulai familiar dengan brand, perilaku pencarian mereka biasanya ikut berubah. Mereka tidak lagi hanya mencari kategori atau menggunakan generic queries. Mereka mulai mengetik nama brand. Karena itu, pantau branded search volume secara rutin. Gunakan Search Console dengan filter branded queries dan lihat perubahannya dari minggu ke minggu. Google Trends juga bisa digunakan untuk melihat bagaimana posisi brand dibandingkan kompetitor.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah brand bidding. Paid ads dengan brand keywords bisa mengambil clicks yang sebenarnya berasal dari orang yang sudah mencari brand secara organik. Jadi, faktor ini perlu diperhitungkan ketika membaca data. Ketika brand campaign berhasil meningkatkan mental availability, salah satu sinyal awal yang bisa muncul adalah semakin banyak orang yang secara aktif mencari nama brand tersebut.
STEP 5 TRACE DIRECT, ORGANIC AND AI TRAFFIC TRENDS
Jangan terlalu cepat percaya pada angka direct traffic. “Direct” pada dasarnya mengelompokkan traffic yang sumbernya tidak diketahui. Jadi, kalau direct traffic tiba-tiba naik tetapi brand search tetap datar, belum tentu kenaikan tersebut berasal dari brand campaign.
Pantau secara terpisah:
Direct Traffic Organic Traffic AI Traffic
Lalu lihat apakah ketiganya mengalami kenaikan pada periode yang sama dengan campaign. Brand yang semakin kuat seharusnya mampu mendorong lebih banyak traffic yang datang secara organic maupun direct. Jika angka tersebut meningkat sementara paid traffic relatif stagnan, ada kemungkinan brand campaign sedang memberikan kontribusi yang signifikan.
STEP 6 ANALYZE PAID CONVERSION CHANGES
Brand campaign tidak selalu menghasilkan conversion secara langsung. Efeknya bisa muncul secara bertahap. Ketika seseorang sudah lebih familiar dengan brand, mereka cenderung lebih mudah memperhatikan iklan, melakukan click, dan akhirnya melakukan transaksi. Karena itu, perhatikan apakah signup conversion dan purchase conversion mengalami perubahan setelah brand campaign berjalan.
Namun, hati-hati dengan faktor eksternal. Seasonality, pricing, promotion, competitor activity, dan perubahan marketing lainnya juga bisa memengaruhi conversion. Idealnya, selama periode campaign kita tidak mengubah terlalu banyak variabel lain agar hubungan antara campaign dan perubahan conversion lebih mudah dianalisis. Efek brand memang bisa tumbuh secara perlahan, tetapi justru bisa bertahan lebih lama.
STEP 7 MEASURE BLENDED CAC ALONGSIDE PAID CAC
Jangan hanya melihat Paid CAC. Paid CAC hanya menunjukkan berapa biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan customer melalui paid channels berdasarkan attribution model yang digunakan.
Masalahnya, customer tidak selalu datang melalui paid ads. Ada organic customers. Ada referrals. Ada customers yang sudah mengenal brand sebelumnya. Karena itu, bandingkan Paid CAC dengan Blended CAC. Blended CAC dapat dihitung dengan membagi total marketing spend dengan seluruh new customers.
Jika Blended CAC turun sementara Paid CAC relatif stabil, ini bisa menjadi sinyal bahwa semakin banyak customers yang datang melalui organic atau brand driven demand. Di sinilah brand campaign mulai menunjukkan nilai yang sering tidak terlihat di dashboard performance marketing.
STEP 8 RUN BRAND AWARENESS SURVEYS REGULARLY
Brand awareness tidak bisa hanya dibaca dari analytics dashboard. Kadang kita memang perlu bertanya langsung kepada market. Jalankan online survey secara rutin dengan pertanyaan dan pilihan jawaban yang konsisten. Contohnya:
“Brand apa yang paling kamu ingat di kategori ini?”
Jangan terus mengubah wording atau pilihan jawaban. Tujuannya supaya hasilnya bisa dibandingkan dari bulan ke bulan. Satu survey saja tidak cukup. Brand awareness adalah sesuatu yang bergerak dari waktu ke waktu. Karena itu, survey perlu dijadikan bagian dari routine measurement, bukan aktivitas sekali jalan setelah campaign selesai. Dengan begitu, kita bisa melihat apakah brand semakin mudah diingat oleh market.
PROOF CAMPAIGN
STEP 9 LAUNCH IN ONE REGION, DON’T LAUNCH IN THE OTHERS
Kalau ingin mengetahui dampak campaign dengan lebih jelas, kita membutuhkan pembanding. Salah satu caranya adalah menggunakan geo test. Pilih dua region dengan history sales dan pola customer yang relatif mirip.
Lalu jalankan brand campaign di satu region dan jangan jalankan campaign tersebut di region lainnya. Tunggu sekitar 6 sampai 8 minggu, kemudian bandingkan pertumbuhan new customers di kedua region. Selisih pertumbuhan tersebut dapat memberikan indikasi mengenai incremental impact dari brand campaign.
Tentu saja, pastikan tidak ada faktor lain yang hanya terjadi di salah satu region, seperti promo besar atau discount khusus. Kalau tidak, hasil perbandingannya bisa menjadi bias.
STEP 10 EXPAND YOUR INCREMENTALITY TESTING
Geo test bukan satu-satunya cara untuk mengukur incrementality. Ada beberapa pendekatan lain yang bisa digunakan.
Audience Test
Bagi audience menjadi dua kelompok. Group A mendapatkan brand ads. Group B tidak mendapatkan brand ads. Kemudian bandingkan hasil kedua kelompok tersebut.
Time Test
Jalankan brand ads secara penuh selama satu periode. Kemudian matikan campaign secara total pada periode berikutnya. Bandingkan perubahan yang terjadi. Tujuannya sederhana:
Apa yang sebenarnya terjadi jika brand campaign tidak dijalankan?
Semakin banyak incrementality testing yang dilakukan, semakin kuat kita memahami kontribusi sebenarnya dari brand activity, bukan sekadar mengandalkan attribution model.
STEP 11 CONNECT “MMM” WITH INCREMENTALITY TESTS
Marketing Mix Modeling atau MMM bisa menjadi alat tambahan untuk memahami kontribusi berbagai marketing channels terhadap sales. MMM menggunakan historical data untuk mencari pola hubungan antara marketing activity dan perubahan sales.
Misalnya: Apakah sales meningkat ketika video views meningkat? Berapa tambahan cost yang dibutuhkan untuk menghasilkan incremental sales? Namun, jangan langsung percaya pada model.
Model bisa menghasilkan angka yang terlihat sangat meyakinkan, tetapi belum tentu menggambarkan realitas. Karena itu, bandingkan hasil MMM dengan hasil incrementality tests dari Step 9 dan Step 10. Jika hasil model dan hasil eksperimen menunjukkan pola yang aligned, tingkat kepercayaan terhadap model akan menjadi lebih kuat.
AFTER CAMPAIGN
STEP 12 CHECK WHAT HAPPENS WHEN YOU STOP
Jangan berhenti melakukan measurement ketika campaign selesai. Justru di sinilah salah satu bagian paling menarik dari brand campaign dimulai. Brand investment bisa meninggalkan efek yang lebih panjang daripada periode campaign itu sendiri.
Karena itu, lanjutkan tracking dari Step 1 dan pantau setidaknya hingga 3 bulan setelah campaign. Misalnya, sebelum campaign, brand kamu memiliki sekitar 10.000 branded searches per bulan. Tiga bulan setelah campaign selesai, angka tersebut tetap berada di sekitar 13.000. Artinya, ada tambahan sekitar 3.000 searches yang masih bertahan setelah campaign berhenti.
Ini membantu kita memahami apakah campaign hanya menghasilkan temporary spike atau benar-benar menciptakan perubahan yang lebih tahan lama. Karena terkadang, hasil terbaik dari brand campaign justru baru terlihat ketika campaign sudah selesai.
THE CHECKLIST
Kalau dirangkum, berikut 12 steps yang bisa digunakan untuk mengukur brand marketing campaign:
BEFORE CAMPAIGN
1. Write Down the Baseline First
2. Decide What Counts as Success
3. Add an Onboarding Question: “How Did You Hear About Us?”
DURING CAMPAIGN
4. Track Brand Search Volume and Share Against Competitors
5. Trace Direct, Organic and AI Traffic Trends
6. Analyze Paid Conversion Changes
7. Measure Blended CAC Alongside Paid CAC
8. Run Brand Awareness Surveys Regularly
PROOF CAMPAIGN
9. Launch in One Region, Don’t Launch in the Others
10. Expand Your Incrementality Testing
11. Connect MMM With Incrementality Tests
AFTER CAMPAIGN
12. Check What Happens When You Stop
Brand campaign memang tidak selalu bisa dijelaskan dengan satu angka. Tidak cukup hanya melihat clicks. Tidak cukup hanya melihat reach. Dan tidak cukup hanya melihat CPM.
Kalau ingin mengukur brand dengan serius, kita perlu melihat perubahan dari berbagai sisi: search behavior, traffic, conversion, customer acquisition, awareness, incrementality, hingga efek setelah campaign berhenti.
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar membuktikan bahwa campaign terlihat. Tapi membuktikan bahwa brand campaign benar-benar mengubah perilaku market dan menciptakan business impact. Dan kalau kita sudah punya 12 steps ini sebagai routine, pertanyaan “Brand campaign ini sebenarnya menghasilkan apa?” tidak lagi harus dijawab dengan feeling. Kita punya datanya.
© 2026 Abditamaputra – Inspired to Inspire.
